News

Kementan Perkuat Antisipasi Kemarau 2026 demi Jaga Produksi Pangan Nasional

Pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi kebutuhan strategis bangsa. Menjaga pangan berarti menjaga kedaulatan dan masa depan negara

Jakarta (KABARIN) - Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat berbagai langkah antisipasi, adaptasi, dan mitigasi menghadapi musim kemarau 2026 guna menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.

Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan infrastruktur sumber daya air, penyediaan benih unggul, modernisasi sektor pertanian, serta dukungan pemerintah daerah.

Dengan berbagai langkah itu, Kementan optimistis target swasembada pangan dapat terus dipertahankan.

Sekretaris Jenderal Kementan Suwandi mengatakan sektor pangan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan negara.

Karena itu, pemerintah terus berupaya memastikan produksi pangan tetap berjalan optimal meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim.

“Pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi kebutuhan strategis bangsa. Menjaga pangan berarti menjaga kedaulatan dan masa depan negara,” ujar Suwandi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, sektor pertanian menjadi salah satu fokus utama pembangunan nasional lima tahun ke depan, terutama untuk mendukung swasembada pangan, program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan biofuel, serta hilirisasi produk pertanian.

Menurut Suwandi, Indonesia memasuki musim kemarau tahun ini dengan kesiapan yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.

Berbagai program peningkatan produksi telah dijalankan, mulai dari optimalisasi lahan, pencetakan sawah baru, pembangunan dan pengembangan irigasi perpompaan, penyediaan benih unggul, hingga penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Ia menegaskan bahwa kondisi iklim pada 2026 berbeda dengan fenomena El Nino kuat yang terjadi pada 2015 maupun 2023.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pemantauan satelit NOAA, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung dalam kondisi yang lebih terkendali.

Karena itu, pemerintah mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan tanpa menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan.

Meski demikian, Kementan tetap meningkatkan langkah antisipasi karena periode Juli hingga September diperkirakan menjadi puncak musim kemarau di Indonesia.

Sejak awal tahun, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah meminta pemerintah daerah memperkuat langkah pencegahan terhadap potensi kekeringan.

Melalui surat yang dikirim kepada para gubernur dan bupati pada 9 Maret 2026, pemerintah daerah diminta memetakan wilayah rawan kekeringan, memperkuat sistem peringatan dini, memperbaiki jaringan irigasi, melakukan normalisasi saluran air, serta mengoptimalkan pemanfaatan embung dan waduk.

“Kita minta daerah melakukan pemetaan wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan sehingga langkah-langkah penyelamatan bisa dilakukan lebih cepat dan lebih tepat,” kata Suwandi.

Selain itu, Kementan terus memperbarui informasi cuaca dan iklim berdasarkan data BMKG dan satelit NOAA agar petani dapat menyesuaikan pola tanam dengan kondisi di lapangan.

Untuk mendukung produktivitas pertanian selama musim kemarau, pemerintah juga menyiapkan berbagai varietas unggul yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan, di antaranya Inpari, Inpago, Situbagendit, Situ Patenggang, Pajajaran, dan sejumlah varietas genjah lainnya.

Pewarta: Fathur Rochman
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: